Suku Rejang
Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatra selain suku bangsa Melayu. Suku rejang diyakini berasal dari daerah Sumatera bagian utara dan kemudian menyebar sampai ke daerah Lebong, kepahiang, sampai di tepi sungai ulu musi di perbatasan dengan Sumatera Selatan. Suku rejang terbanyak menempati Kabupaten rejang Lebong yang kini memekarkan diri menjadi kabupaten Rejang Lebong(induk), Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahiang. Bila kita lihat dari dialek bahasa yang digunakan, sangat jelas perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa daerah di Sumatra lainnya dengan bahasa Rejang. Suku Rejang menempati Bengkulu Utara, Lebong dan di kabupaten Rejang Lebong. Suku ini merupakan terbesar di provinsi Bengkulu, namun secara sumber daya manusia, agaknya suku ini kurang begitu adaptif terhadap perkembangan di luar daerah. Ini dikarenakan kultur masyarakat Rejang yang sulit untuk menerima pendapat diluar dari pendapat kelaziman menurut pendapat mereka. Tetapi kini beberapa putra-putri suku rejang telah menempuh pendidikan tinggi seperti dokter, sarjana teknik, ekonomi, sastra dan lain lain.
Berdasarkan Tambo, orang Rejang berasal dari Bidara Cina melewati Pagaruyung, juga dari Majapahit dari Jawa. Mata pencaharian penduduk umumnya bertani, baik pertanian padi di sawah maupun perkebunan seperti cengkeh, lada, buah-buahan, dan sebagainya.
Pada masyarakat suku Rejang, disatu dusun terdiri dari kelompok yang terikat atas, dasar ikatan perjanjian pada saat sebelum upacara perkawinan menurut aksen bekulo. Pada prinsipnya ada tiga macam yaitu asen Beleket, asen Semendo dan Semendo rajo-rajo. Yang dimaksud beleket adalah perempuan masuk atau ikut kepada keluarga suami, jadi berlaku sistem partrilikal. Semendo berarti laki-laki masuk atau ikut kepada keluarga istri berarti termasuk sisitem matrilokal. Sedangkan Semendo berarti bebas memilih atau bilokal.
John Marsden, Residen Inggris di Lais (1775-1779) menceritakan tentang adanya empat Petulai Rejang diantaranya Jekalang (Joorcalang), Selupuak (Selopoo), Manai (Beremani), Tubey (Tubay) di sisi lain Dr. J.W. Van Royen dalam Laporannya “adat-Federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang” menyatakan bahwa Marga-Marga tersebut merupakan kesatuan Rejang yang paling murni.














to all..
kawan aku mo nanya ne ..aku ada planing skripsi untuk menganalisa bahasa rejang yang akan di bandingkan dengan bahasa inggris,,btw ada g sumber untuk saya bisa mempelajari bahasa rejang ini lebih dalam,,kalo ada saya minta alamat web nya ya,,kl bsa tlong kirimkan ke alamat email saya _tedyardiansyah2488@yahoo.com
terimakasih banget kl ada yang bisa membntu,,,
saya salah seorang putra suku rejang. trmksh tlh mengangkat sdikit keberadaan suku kami, suku rejang. Tak disangka orang luar negeri lebih memahami adat istiadat suku rejang.
maju trus jang, uku tun jang. Uku bangga kalau ade tun te masiak tinget negn sukau ne………
*ian: setuju tinggal dari kita²ny aja utk lebih kreatif memberi informasinya
memang perlu adanya promosi agar adat rejang lebih dikenal diindonesi yg merupakan aset yg perlu dikembangkan
*Andy: iya betul tu om, mmng perlu dipublikasikan lg tentang informasi tentang daerah kita itu
Saya jugat berasal dari rejang,sangat menarik skali kalo tau smua asal mula terbentuknya suku adat rejang.skarang saya tinggal di jogja.